Nonton Bioskop dengan Cewek, maka….

Akhirnya aku mulai berani dengan gadis itu. Semakin sering dia datang ke ruangan kerjaku, mengantar minuman yang aku pesan, atau minta di ajarin program corel. Ya, begitulah, dengan sedikit mencuri-curi, dengan masih malu-malu, aku raba dadanya, tentu dia diam saja. Kita memang masih sama-sama malu.

Tapi di kantor tak bisa leluasa, apalagi kantorku, banyak juga yang lembur sampai malam. padahal hati masih sangat penasaran, seperti apa sih rasanya kalau memegang dari dalam.

Bioskop. Akhrinya aku kepikiran ke bisokop. Selama ini aku sering nonton, sendiri. Bgaiaman ya caranya minta ijin ke ibunya buat nonton. Maka aku bilang, menawarkan, bagimana kalau nonton. Mau, tap ibilang sama ibuku ya, katanya. Akhirnya, sabtu pagi sebelum kerja, aku mampir untuk sarapan, dan sekalian bicara sama ibunya, kalau nanti sore mau ngajak nonton dia. Boleh, tapi jangan malam-malam pulangnya.

Kerja jadi tak konsentrasi. Pikiran ingat sore nanti akan nonton sama dia. Ah, makin ngeres saja.

Akhirnya kita nonton, malam minggu, ramai. Banyak muda-mudi juga pada nonton.Cari film dengan durasi paling alam, paling sepi, dan paling gelap.  Aku beli karcis yang longgar, belakang seudah penuh, agak ke depan. Tidak apa-apa, toh kita memang gak niat nonton.

Sampailah di raung bisoskop. Mau langsung mojok, rasanya masih malu sama yang di belakang.  Tapi lama-lama banyak yang amsuk, daripada keduluan, maka mojok saja, kepinggir. Kita belum berani ngapa-ngapain. Sampai film di mulai, lampu dimatikan, dan pertunjukan kita juga berjalan.

Seeprti itulah, aku pegang payudaranya, aku susupkan tanganku ke dalam bhnya. Sulitnya. Kita harus merunduk, agar tak terlihat dari belakang, jadi kurang leluasa. Tap pertama kali, menyentuh kulit payudara. halus..

kita coba ciuman, tapi tak berhasil. Posisi yang miring, murunduk, sangat menyulitkan untuk ciuman.

Tapi, sudah lumayan. Aku pegang tangannya, aku tarik ke perutku. Dia gak mau, bertahan. Ku buka resliting. Dia menolak, jangan. Butuh usaha ternyata. Aku sudah penasaran, bagimana kalau barangku ini dipegang cewek. Dengan terus berusaha kahirnya, dia kendor, mau pegang cd ku. Lama-lama aku makin menguasai. Ku buka sedikit cdku, ku keluarkan barangku, ku suruh dia memegangnya.

dan terjadilah,saling meraba…..

pengalaman pertama di bioskop. Cowok umur 26 tahun, yang baru pertama kali mengenal tubuh perempuan.

bersambung

Pengalaman Pertama

Pengalaman pertama menyentuh payudara wanita. Panas dingin, deg-degan.

Aku bekerja di sebuah biro iklan, sering lembur sampai malam. Biasa, kalau lembur sering merasa haus atau lapar, makananan ringan menjadi obatnya. Demikianlah, sering aku pesan teh hangat, pisang goreng, atau mie instant di kantin kantorku. Jadilah si penjaga kantin sering ke ruanganku, dan sudah ahpal, kalau dia lewat menhantarkan makanan ke yang lain, aku pesan, aku tinggal menunggu.

Awalnya tak ada apa-apa, profesional, aku kerja, dia kerja. Tapi ada yang tak biasa, aku pria dia wanita.

Suatu hari aku harus lembur lagi, tugasku yang membikin desain dengan komputer membutuhkan kenyamanan, sehingga aku mempunyai ruangan kecil sendiri. Malam itu hujan, bisa dibayangkan kan dingin, dan lapar. Jam 10 malam, sore sebenarnya sudah maka, tapi sepertinya masih lapar juga. Maka aku pesan ke mbak penjaga. Pesam mie instant plus telur ceplok dobel.

Dia datang, kok ya kantor sepi, pada kemana orang-orang, dia duduk sebentar, melihat hasil desinku. Gambar apa ini mas? begitulah, diawali dengan obrolan ringan, tapi jujur, hatiku sudah ngeres, tapi tak berani. Jadilah aku menahan nafas dan detak jantung yang kiat menggebu.

Satu jam tak terjadi apa-apa, tiba-tiba lampu mati. Jakarta kok begini. Ternyata gardu listrik dekat kantorku mati, anjlok, ada dahan yang patah. Bisa dibayangkan, aku lagi on, berada diruangan kecil dengan perempuan.  Dia langsung reflek memelukku, takut, atau gak tahu…

kesempatan , dengan mengumpulkan keberanian, kupeluk dia, dan kuraba. ternyata dia diam saja….deg-degan tapi senang. Kita tak berkata-kata. Hanya lima menit, pak satpam memeriksa ruangan, aku harus segera berggas, mbak penjaga keluar. aman.

pengalaman pertama, begitu deg-degan….

Pendahuluan: Cerita Pengantar

Ini merupakan sebuah petualangan, aku tak menyesal pernah melakukannya. Tergerak oleh sebuah rasa ingin tahu, juga rasa ingin mencoba, dan akhirnya ada sebuah keberanian untuk melakukan.

Aku laki-laki, anak ke empat dari lima bersaudara, laki-laki sendiri. Ayahku sudah meninggal waktu aku umur kurang lebih 2 tahun. Dari kecil aku di asuh oleh ibu dan kakak-kakakku, semuanya perempuan. Mungkin karena hal inilah aku merasa tak dididik jadi laki-laki, aku merasa tak punya figur ayah sebagai panutan.

Sehingga aku besar sebagai laki-laki sensitif, sering merasa kalah (pecundang), dan penakut. Juga terhadap perempuan. Sejak mengenal perempuan waktu SMP sampai kuliah, dan umur 26 tahun, aku tak pernah pacar. Hidupku yang kering, ditambah, kasih sayang dati orang tua, ayah, mungkin menjadi salah satu alasan aku mencoba-coba. Aku seperti ingin membuktikan bahwa aku juga laki-laki. Dan laki-laki normal suka perempuan. Dan laki-laki normal boleh-boleh saja nakal, bahkan di mataku waktu itu justru ada nilai plus.

Itu yang kudengar dari teman-teman yang dengan bangga menceritakan pernah membawa pacarnya dan bercerita tentang kemesraannya. Atau kenakalan mengganggu cewek satu desa, waktu malam-malam pulang nonton. Ahhh,, aku tak punya pengalaman seperti itu.

Padahal sebagai lelaki normal aku ingin. Ingin merasakan memeluk cewek, mencium, atau meraba… Merasakan bagaiman punya pacar, bisa memamerkan ke orang lain, aku sudah laku.

Tapi semua itu aku lalui dengan diam, berusaha bersabar, tap iterus mendendam, aku harus mengalaminya. Tenyata keberanian tak kunjung datang, aku mungkin terlalu pengecut, jadi untuk nakal saja tak punya keberanian.

Akhirnya waktunya datang juga, kesempatan, bertemu dengan keberanian.

bersambung…………………………….

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!